Panggilan

Suatu pagi yang buta seorang bapak memanggil anaknya. Hendak diberikannya sejumlah uang untuk pagi itu. Syaratnya cuman satu, datang. Bila iya, akan dilipatgandakannya uang itu, tapi jika terlambat, tetap dapat tapi cuman sekedarnya. Siang hari yang terik, bapak itu mengulangi panggilannya. Untuk rejeki siang itu. Dan menjelang sore, petang dan malam, si Bapak masih setia melakukan hal yang sama.Hanya untuk memberikan uang. Kasih dan sayangnya lah, yang menjadikan si Bapak melakukan itu setiap hari, terus berulang-ulang selama bertahun-tahun tanpa kenal lelah. Hingga penghujung umur si anak.

Andai si anak TIDAK PERNAH MENGGUBRIS panggilan BAPAKNYA, lalu suatu saat si anak meminta sesuatu atau butuh bantuan bapaknya, pantaskah si bapak menuruti?

Andai si ANAK adalah KITA, dan si BAPAK itu adalah TUHAN KITA, sementara PANGGILAN itu adalah ADZAN yang dikumandangkan oleh Masjid terdekat dari rumah kita, masih pantaskah kita menyia-nyiakannya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s