emas600px1

Zakat

Pagi ini seorang kyai kharismatik di Sidoarjo kedatangan seorang tamu. Seorang jenderal bintang 3, yang terkenal lurus dan gak neko-neko. Setelah guyon dan berbincang agak lama, pak jenderal bertanya,

“Pak Yai, saya ini punya mas-masan (emas) dalam jumlah agak banyak.

Yah kurang lebih 4 ons lah. Kira-kira, dengan mas-masan yang sebanyak itu, saya harus ngapain?”

“Mas-masan itu dipakek sama istri sampeyan atau untuk disimpan?”

“Disimpan. Hanya sebagian kecil saja yang dipakek”

“Sampeyan apa sudah menzakatinya?”

“Sudah Yai”

“Kapan?”

“Kurang lebih satu setengah tahun yang lalu”

“Tahun ini?”

“Lho kan sudah Yai?

“Mas, sampeyan kesini tadi sudah mandi?”

“Ya sudah lah, Yai”

“Kemaren mandi?”

“Gak hanya kemaren, saya ini setiap hari mandi minimal 2x”

“Kenapa?”

“Kok pak Yai tanyanya gitu?”

“Jawab dulu pertanyaan saya”

“Ya bau lah pak Yai, apalagi sehabis nggarap PR sama istri. Mosok pak Yai gak tahu he… he… he…”

“Nah itulah, sama dengan zakat. Zakat itu pembersih keislaman kita. Gak zakat, ibaratnya sama kayak gak mandi. Lupa zakat, mirip dengan lupa mandi. Bau? Yah mungkin seperti itulah kira-kira gambarannya.”

“Berarti harta saya bau, Yai?”

“Yah, kurang lebih seperti itu. Sekarang sampeyan segera ke ATM, segera bayar zakatnya. Dimana saja terserah. Ke badan amil zakat, lebih baik”

“Nggih matur nuwun Yai”

“Pesen saya, mas-masan 4 ons tadi jangan dirupakan hanya sepasang giwang (anting-anting) ya. Kasihan istrimu kalo makek”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s