shutterstock_209942977

Cerpen Pak Yai: Nafsir Al Quran (1)

shutterstock_209942977.jpgSudah dua minggu, pak Yai belum bisa meninggalkan pesantren. Tamu luar biasa banyak. Mulai menjelang akhir Romadhon hingga beberapa hari setelah lebaran ini. Biasanya hingga pertengahan Syawal. Bu Nyai juga sama. Tamunya uleng-ulengan. Silih berganti, hingga malam. Gusi garing, sudah biasa. Untung ada santri yang segera balik. Sehingga bisa membantu urusan dapur.
Hari itu, udara di luar panas. Angin agak semilir. Jauh di Selatan, nampak mendung agak tebal, menyelimuti langit Pacet.
Di belakang pesantren yang menghadap sawah, Pak Yai menemui 5 orang tamu.
“Pak Yai, di internet banyak saya temui forum dialog. Sebagian dari mereka, menyangsikan tentang kebenaran Quran. Katanya banyak pertentangan. Ayat ini gak cocok dan gak konsisten dengan ayat yang lain, hukum ini nabrak hukum yang lainnya lagi. Ini sebenarnya gimana?”
“Ooo… Tentang itu. Gini menafsirkan Quran itu ada syaratnya. Pertama, yang bersangkutan wajib paham Sastra Arab. Jadi tidak sekedar bisa bahasa Arab.”
“Kenapa gitu pak Yai?”
“Ya karena Quran itu pakek bahasa Sastra. Bukan bahasa pasar. Jadi kalo ada kalangan yang menafsirkan Quran hanya berbekal terjemahan Quran saja, hampir dipastikan penafsirannya gak valid.”
“Apa terjemahannya Depag itu salah, pak Yai?”
“Bukan salah, gak bisa sama persis dengan yang bahasa Arabnya”
“Saya gak mudeng”
“Kamu wong Jowo kan?”
“Iya”
“Kamu tahu istilah tibo, njlungup, nggeblag, lugur, kejongor, nelbok, nyungsep?”
“Iya tahu”
“Cobak bahasa Indonesiano.”
“Tibo itu jatuh, njlungup itu jatuh ke depan. Nggeblag itu jatuh ke belakang…”
“Dalam bahasa terjemahan, yang kamu.artikan tadi itu kepanjangan. Biasane langsung diartikan jatuh.”
“Ya bisa saja sih, tapi kayaknya kurang pas banget, pak Yai”
“Nah itulah, mirip dengan nerjemahkan Quran. Nyari kata yang sama persis untuk kata bahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia itu kadang gak ada padanannya. Contoh kata Ilah dan Robb. Terus Alaq yang bisa bermakna ganda: segumpal darah, atau bisa juga berarti nempel. Keduanya hanya diartikan Tuhan, dalam Bahasa Indonesia. Padahal, itu dalam bahasa aslinya, artinya gak hanya Tuhan. Terus Alaq yang bisa bermakna ganda yaitu segumpal darah, atau bisa juga berarti nempel. Begitu seterusnya masih buanyak sekali”
“Lha lalu, apa hubungannya dengan ayat yang katanya saling nabrak?”
“Nah, sebelum njelaskan tentang ayat yang saling nabrak, monggo disambi minum dulu…”
(Bersambung)

Cawas, Klaten, Jawa Tengah 7 Juli 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s