karpet masjid

Karpet Masjid

Malam minggu itu, langit mendung berat. Hitam pekat, sesekali diselingi kilat menyambar dan suara cemethar yang menciutkan hati. Agak malas sebenarnya malam itu untuk keluar. Kalo bukan karena tanggung jawab, karena diundang, mungkin pak Yai lebih memilih di rumah saja.karpet masjid

Tidak seberapa lama, hujan angin turun dengan derasnya. Menyambar dan membasahi apa saja. Untung pak Yai sudah nyampek masjid, tempat dilaksanakannya rapat pembangunan masjid. Sebenarnya kalo dikatakan pembangunan, mungkin gak pas-pas amat, tapi kalo dikatakan renovasi kok habis biaya banyak. Malam itu, memang membahas perluasan masjid. Entah apalah sebutannya, renovasi atau pembangunan. Dana yang telah direncanakan pun mencapai ratusan juta hingga milyar rupiah. Maklum, membesarkan dan meninggikan ukuran bangunan, bukan sesuatu yang mudah, untuk menggalang dananya.

Singkat cerita, hampir semua panitia datang. Hanya Idris yang tidak datang, karena harus jadi suami siaga. Maklum istrinya sedang mengandung 9 bulan, anak yang ke-8. Di kalangan lingkungan desa ini, memang Idris yang paling produktif.

Pembicaraan mulai menyentuh hal-hal yang bersifat sensitif: kemewahan

Dalam rencana anggaran yang telah disebarkan ke semua panitia dan penasehat, tertera beberapa kelengkapan yang menurut pak Yai tidak terlalu penting. Memang pak Yai yang satu ini agak anti ketidakmasukakalan.

“Bagaimana Bapak-bapak, apa ada yang hendak dibahas lagi, mumpung di luar masih hujan” Kata Kaji Sulaiman, ketua panitia.

“Aku Ji”

“Nggih pak Yai”

“Ini setelah tak lihat-lihat, ada yang nggak pas di hatiku, Ji”

“Yang mana itu?” Kata Kaji Sulaiman, teman kecil Pak Yai saat masih tinggal di Tarik, sambil membuka-buka kembali fotokopian susunan anggarannya.

“Gini Ji, tadi kan sudah dikatakan, modal pembangunan kita kan masih jauh dari dana yang seharusnya kita butuhkan. Bagaimana kalo beberapa pos anggaran ini, kita koreksi lagi. Sebab menurutku kok eman, kalo ini dipaksakan.”

“Yang halaman berapa Yi?”

“Ya, ini ada pos pembelian Jam Besar Junghans 20an juta. Beli lampu kristal sekian puluh juta, yang rencananya dipakek di tengah, lalu karpet sekian puluh juta…”

“Lho bukankah itu wajar dibeli, untuk Masjid?”

“Menurutku kita gak usah tiru-tiru. Keberadaannya lho gak penting banget. Eman…

Mendingan diganti jam dinding aja yang biasa. Harga maksimal 100 ribuan, 3 biji ato berapa. Itu jauh lebih masuk akal.”

“Ngapunten, saya gak setuju pak Yai. Karena jam itu sudah menjadi perangkat wajibnya masjid. Malu Pak Yai. Terutama dengan masjid yang lain.”

“Perangkat wajib menurut siapa? Malu kok sama masjid lain. Apa gak sebaiknya malu sama Gusti Alloh, karena telah berboros-boros? Mendingan buat tambahan beli keramik atau granit atau marmer atau yang lainnya. Jam itu yang penting fungsinya. Gak harus yang merk Junghans kan. Yang model digital ukuran gede, kan sama fungsinya. Pokoke ketok. Lak uwis”

“Saya gak setuju. Pokok-e gak setuju”, Teriak Kaji Sokib.

“Alasane opo Ji?” Tanya pak Yai

“Yo pokok-e gak setuju. Titik”

“Walah, nek dimodel ngono, ya mendingan gak usah musyawarah Ji. Sampeyan putusi kabeh, dewe wae. Kita ini kan dalam rangka mencari kesepakatan. Mana yang terbaik. Bukan terbaik barang-barange. Tapi terbaik fungsinya, dan pantes. Jam batere, menurutku walaupun gak biasa ada di masjid, tapi itu wis pantes. Gak ada yang mengatakan Jam batere itu elek. Funsinya pun sama”

“Ya sudah, untuk jam dipending dulu saja. Terus tentang yang lain?” Kata Kaji Sulaiman

“Lampu kristal dan Karpet, Ji” Ujar pak Yai

“Waduh kok pak Yai ngajak ngomong yang ini juga, ya. Karena menurut kami, itu sudah tidak perlu dibahas.”

“Kenapa gak dibahas?”

“Yah, sudah umum lah Pak Yai. Masak masjid megah, gak pakek lampu kristal?” Ungkap Kaji Sulaiman.

“Ji, lampu kristal itu gak penting. Pertama larang (mahal). Kedua meliharanya susah. Mbersihkannya itu lho yang repot. Nek kelihatan kotor, banyak sawangnya, sopo yang suruh mbersihkan, lha wong tingginya kayak gitu. Menurut pengamatanku, hampir semua masjid yang pakek lampu kristal di tengahnya, hampir gak ada yang dibersihkan. Mulai beli hingga bejat. Sehingga ornamen yang semula pemanis ruangan, jadi yang bikin sepet mata. Menurutku, ganti aja dengan lampu LED yang terang atau gak usah juga gak pa pa. Kalo LED, wattnya kan kecil, meliharanya gampang. Awet. Masjid jadi terang. Kalo masjidnya padang, jamaah seneng. Karena gak banyak nyamuk. Jadi, tanpa lampu kristal pun, gak akan mati masjid ini. Sudah lah, menurutku coret aja. Lagian, menurutku fokus utamanya harusnya mbikin rame jamaah sholatnya, bukan bermewah-mewah. Eman kan, masjid-e apik tapi gak onok jamaahe”

“Gimana Bapak-bapak?”

Semua diam. Memikirkan logika pak Yai yang masuk akal.

“Terus tentang karpet”

“Waduh, kenapa karpetnya pak Yai?”

“Kalo pakek karpet, mendingan gak usah keramik atau granit yang bagus. Mubadzir. Lantai bagus kok ditutupi karpet yang gak seberapa penting. Bikin mengi (asma) kalo gak pinter njaga. Gak pinter mbersihkan. Dan satu lagi, bikin bathuk (dahi) jadi ngapal (menghitam).”

“Wah, ini saya yang paling menentang pak Yai” Teriak Kaji Zainal.

“Kenapa?”

“Karpet itu perangkat wajib”

“Siapa bilang wajib? Gak ada. Silahkan pakek karpet, tapi keramiknya cukup belikan yang kelas 40 ribuan permeter. Toh kalo dibelikan yang mahal, kalian tutupi. Pilih mana?”

Semua diam, manggut-manggut. Terbayang kemubadziran yang tidak terduga, yang diungkap pak Yai.

“Sampeyan semua pernah sholat di karpet kan? Kalo dipakek traweh, panas gak di bathuk (dahi)?”

Semua diam.

“Jujur saja, saya gak suka bathuk saya jadi hitam. Ngapal.”

“Bagaimana Bapak-bapak, ada yang tidak setuju?”

Sepande, 24 Ramadhan 1437 H / 29 Juni 2016

Diilhami dari masjid saat traweh, karpetnya mbikin panas di dahi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s