itikaf-Ramadhan

I’tikaf

itikaf-Ramadhan“Pip, sekarang kita pulang dulu ke Tulangan ya. Jam 10 baru berangkat ke Mojokerto”
“Nggih Pak Yai”
“Jangan lupa, persiapkan segala sesuatunya”
“Nggih”
Hari itu, setelah sholat Shubuh, usai semalaman melaksanakan i’tikaf di Masjid Kemayoran Surabaya, pak Yai mengajak pulang Tapip. Jalan masih sepi. Dan langit masih gelap. Tertutup mendung dan hujan yang rimis-rimis. Dingin. Sepanjang perjalanan Pak Yai berdzikir terus. Tapi ketika diajak ngobrol, beliau menghentikan dzikirnya.
“Pak Yai, kok njenengan gak kayak biasanya?”
“Biasa sing koyok opo, Pip?”
“Biasanya kan banyak bercerita, sepanjang perjalanan.”
“Iya Pip. Eman. Ini kan Romadhon sudah tinggal sak klemetan (sudah mau usai). Doa Kanjeng Nabi, agar diberikan kebaikan super di akhir. Nah, saat ini kan sudah masuk akhir Romadhon, kan? Maksimalkan. Sudah bukan dioptimalkan lagi.”
“Ooo…”
“Kamu tahu Pip? Sebenarnya aku gak terlalu setuju, kamu menghentikan sholat Trawehmu di rokaat kedelapan.”
“Lho, kenapa pak Yai? Bukannya traweh yang delapan itu juga ada tuntunannya?”
“Iya betul, ada tuntunannya. Cuman Kanjeng Nabi pernah dawuh, Sopo wonge sing sholat traweh bareng ambek imam sampek akhir, niscaya wong iku diganjar Gusti Alloh koyok sholat sepanjang malam. (barang siapa yang melaksanakan sholat tarawih hingga akhir bersama imam, niscaya dia akan mendapatkan pahala sholat sepanjang malam) *1)”
“hmmm….”
“Bukannya yang semalam itu imamnya ngajak 20 rokaan traweh?”
“Iya”
“Nah itu lah… Harusnya kamu kalo mau yang 8 rakaat, jamaahnya di Al Falah, di Masjid ITS, di Unair, atau yang lainnya. Gak po po. Bukan di Kemayoran ato Ampel. Kalo kamu maksa di sini, ya saranku ikuti sampek selesai.”
“Pak Yai, tapi saya kan Muhammadiyah…”
“Gak ada urusan sama Muhammadiyah atau NU. Ini Hadits, Pip. Ikut Imam sampek selesai”
“Termasuk witirnya?”
“Iya, termasuk witirnya”

Tidak terasa, mobil sudah nyampek prapatan Pilang. Langit masih gelap. Hujan rimis-rimis, belum reda. Jalanan basah, tidak becek. Seperti habis dipel.

“Oh ya pak Yai, saya kalo i’tikaf itu sering jenuh. Capek. Gimana ngatasinya?”
“Mungkin yang kamu lakukan cuman 1 amalan aja kali”
“Iya, cuman ngaji dan sholat”
“Nah, iya to? Cobak divariasi. Sebab aktivitas di i’tikaf gak hanya sholat dan ngaji aja. Tapi bisa dzikir, berdoa, dan melakukan aktivitas yang baik-baik, seperti membaca buku agama, menulis, dsb. Termasuk tidur.”
“Tidur?”
“Iyo. Lha nek gak tidur terus yok opo? Sirah puyeng la’an (kepala pusing). Memang harusnya i’tikaf itu 10 hari nginap di masjid. Itu idealnya. Cuman jaman sekarang ini, kan sulit. Kantormu gak prei (libur) kan?”
“Endak”
“Disini, ngantor dianggap sebagai ‘berhalangan syar’i’, maka diperbolehkan.
Oh ya, mobilnya masukkan garasi langsung ae”
“Nggih”
“Nanti masuk garasinya, kepala dulu lho ya. Ojok bokong sik”
“Kenapa pak Yai?”
“Biar beluknya (asap) gak masuk rumah.”
“Nggih…”

Sepande, Candi, Sidoarjo, 23 Romadhon 1437 H / 28 Juli 2016
(diilhami dari Tabassam Senin SHAMFM asuhan Ust Agung Cahyadi, MA)

—————————————-
*1 ) —- HR. An-Nasai no.1605, At-Tirmidzi no.806, Ibnu Majah no.1327, dan selainnya. Dan hadits ini dinyatakan SHOHIH oleh At-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani dalam Irwa’ Al-Gholil no. 447

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s