obat-herbal-penurun-panas-alami

Cerpen Pak Yai: Obat Panas

obat-herbal-penurun-panas-alamiHari itu Heru kebingungan. Hampir putus asa. Sudah 3 kali ini dalam sebulan anaknya sakit-sakitan. Bulan kemaren dan bulan sebelumnya juga gitu. Panas, dan nangis melulu. Sedih itu jelas. Anak ketiganya ini seakan “nggoda”. Begitu, tuduhnya. Dibawa ke dukun dan orang pinter, yang terkenal sekalipun sudah diupayakan. Tapi tidak membuahkan hasil. Diagnosa mereka, ada yang ngganggu. Atau ati-ati, orangnya gak jauh dari rumahmu. Akhirnya Heru jadi curiga pada tetangga. Lama-kelamaan bosan, selalu berburuk sangka dengan tetangga.
Akhirnya, dia ketemu Parno yang kemudian mereferensikan Pak Yai. Orangnya gak sakti tapi nasehatnya sering mandi (manjur).


Sehabis Isya’, tanpa pikir panjang Heru namu ke rumah Pak Yai.
Hujan rimis-rimis.
“Pak Yai…”
“Lho Heru anake Mahfud ta, dungaren kok gak salam, rek?”
“Waduh lupa pak Yai, Assalaamu’alaikum…”
“Waalaikumussalaam warohmatulloohi Wabarokaatuhu”
“Niki pak Yai, anak saya demam terus. 3kali dalam sebulan. Panas, pokoke rewel terus”
“Ru, koen gak salah alamat ta, kok ngomong penyakit di sini?”
“Endak pak Yai. Saya sudah capek ke sana kemari. Ke dukun sana, wong pinter sini, tapi semuanya gak ngatasi jinnya”
“Jin? Kamu tahu jin dari mana?”
“Ya dari wong-wong pinter itu pak Yai”
“Ru, pertama. Jin iku karakteristike gak gini. Lagian, Koen pikir awak dewe iki bangsane dukun ta?”
“Lho nggih mboten”
“Kedua, urusan penyakit nang kene, iku jelas salah alamat”
“Pun ta lah pak Yai, njenengan buatkan omben-omben (minuman) gitu lho.”
“Arek iki, rodok koclok, diarani salah alamat kok malah mekso”
“Pun ta lah pak Yai, pokoke njenengan bantu anak kulo”
“Kamu wis ke Dokter?”
“Ini bukan penyakit fisik. Pokoknya saya ngobat ke pak Yai saja”
“Dikandani wong tuwek, malah kemeruh. Wis gini aja, masalahe anakmu opo?”
“Panas pak Yai. Sudah 3 kali ini dalam sebulan sakit waras, sakit waras. Saya kan jadi curiga. Jangan-jangan sawanen”
“Umur piro arek iku?”
“2 tahun”
“Nguyuhe lancar?”
“Itu lah pak Yai. Kulupnya gak bisa mbukak. Hanya ninggal lubang kencing yang kuecil. Jadi, burungnya si Tole ini nutup…”
“Sunatno, Insya Alloh waras”
“Pak Yai anak saya ini sakit panas…”
“Iya tahu. Kamu manut saranku, gelem ta gak?”
“Inggih… Inggih… Manut”
“Sesuk isuk, sunatno”
“Jangan ndadak pak Yai. Saya gak ada persiapan macem-macem.”
“Gak usah persiapan. Pokoke langsung cling. Beres. Urusan dirame-rame, iku urusan nomer 19. Awas, besok siang tak telpon kamu. Nek sampek jik durung sunat, mending kamu dan Bapakmu gak usah kesini ae. Sak lawase”
“Inggih pak Yai, besok saya sunatkan”

RSUD Sidoarjo, 11 Juni 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s