dew4

Cerpen Pak Yai: Nasehat Bijak

Siang itu, di Warung Kopinya Bambang ada perdebatan sengit. Gara-garanya, Heri si Pemuda desa yang sekarang kuliah di Unair Surabaya, mendebat Herman yang jebolan salah satu pesantren di mBoyolali.
dew4Menurut Heri, salaman setelah sholat itu tidak ada ajarannya. Sementara Herman bersih keras, bahwa itu bid’ah hasanah. Tidak dicontohkan nabi, tapi kalo dilakukan, masih baik. Semua yang di warung kopinya Bambang diam, hanya sesekali menggerutu, gitu aja kok dipersoalkan. Sementara yang tidak kuat dengan aura yang semakin panas itu, terpaksa meninggalkan warung, dengan alasan gak betah melihat orang debat. Hanya pak Yai yang diam, mendengarkan.
Akhirnya menjelang jam 11.00 Herman dicari istrinya, sehingga terpaksa debat itu disudahi. Sekali lagi dengan terpaksa.
Sepulang Herman, Heri meminta pendapat pak Yai.
“Bagaimana menurut pak Yai?”
“Menurutku podo benere. Herman bener. Kamu juga bener. Yang gak bener itu caramu.”
“Kok pak Yai mengatakan Herman bener?”
“Ri, kamu sadar kan kalo salaman setelah sholat itu dilakukan setelah salam?”
“Iya.”
“Menurutku, apapun yang dilakukan setelah salam, itu sudah bukan dari bagian sholat. Jadi habis sholat lalu ngobrol, itu pun juga boleh. Kan sholate wis buyar. Cuman, idealnya bukan ngobrol. Tapi wiridan.”
“Tapi kan tidak ada contohnya pak Yai.”
“Memang. Cuman disini apa ada rukun sholat yang dilanggar? Gak ada kan? Nah kalo gak ada, sebaiknya jangan diperpanjang. Saling menghormati lah.
Justru yang menyebabkan ruwet itu caramu mengingatkan. Cara menasehati kalo langsung inti, apalagi itu terkait dengan prinsip seseorang, orang gak bakal mau. Lha wong nasehati orang yang jelas-jelas melakukan kesalahan aja, kalo dilakukan langsung, tanpa “kembangan”, hampir pasti ditolak atau malah dimusuhi. Walaupun nasehatnya itu benar dan baik. Conto: judi itu kan haram. Main judi, itu jelas dosa. Menasehati mereka, gak bisa langsung. Harus pelan-pelan. Gak langsung ngasih gambaran syurga dan neraka… Jelas mlayu dia. Gak akan ndengar. Atau kalo sial, bisa dikeroyok. Walaupun dia tahu, nasehatmu itu bener.
Dakwah ya dakwah, tapi caranya harus santun, pakek strategi. Itu pun kalo yang kamu nasehatkan, tentang sesuatu yang haram. Kalo yang mubah, harusnya jauh lebih santun lagi. Berstrategi. Gak kayak tadi itu. Herman kamu tuduh ahli neraka. Ya pasti gak terima dia. Emang yang bagian ngaplingi lahan neraka itu kamu?”
“Hmmm….”
“Conto lagi…
Kamu nyarankan si Endang, bojone Bambang warung iki, untuk kudungan.
Nah pertanyaane, opo iku apik?
Jelas apik, lha wong iku syariate memang begitu. Kudungan itu wajib. Titik. Tapi ceritanya akan lain, kalo kamu nyarankannya tanpa strategi. Langsung mbok omong, gak kudungan iku mlebu neraka. Dikasih dalil macem-macem…
Nah kalo ini yang kamu lakukan Ri, tak jamin, kamu bakalan adus kopi nang kene, seketika itu juga.”
“Tapi kan dakwah itu memang pahit, tak selamanya mulus pak Yai… Jadi semuanya harus dihadapi.”
“Iya tahu, tapi menurutku kalo caramu gitu, itu namanya konyol. Kanjeng Nabi aja, kalo berdakwah pakek strategi. Ngomonge ditata, intonasi sampek cara mendekati orang juga diatur sedemikian rupa. Gak sukur tebas sana, sikat sini. Dan yang lebih penting lagi, Kanjeng Nabi itu gak suka menyalah-nyalahkan orang lain. Kamu sudah khatam buku Shiroh Nabawiyah (biografi Nabi Muhammad SAW), belum?”
“Belum pak Yai”
“Habiskan dulu mbacanya. Nanti kamu kan tahu, bagaimana cara beliau menasehati orang dengan cara yang santun dan mengena, tanpa perlu menghakimi seseorang menjadi ahli neraka atau bukan”

Sidoarjo, 12 Juni 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s