http://www.goriau.com/assets/imgbank/20092014/6fa0b83d476008324bfea4aqh-8294.jpg

Cerpen Pak Yai: Anti Hujan

http://www.goriau.com/assets/imgbank/20092014/6fa0b83d476008324bfea4aqh-8294.jpgSiang itu, mendung. Jauh di sisi Selatan nampak mendung bergelayut. Hitam dan berat. Ayam, itik, dan burung prenjak yang sering bermain di pekarangan belakang pesantren pak Yai seakan malas beraktivitas. Semua diam, menikmati suasana pekat yang sebentar lagi jatuh.

Partono, datang dan mengetuk pintu rumah pak Yai.

“Assalaamu’alaikum…”

“Waalaikumus salaam warohmatulloohi Wabarokaatuhu, monggo silahkan duduk,” sahut pak Yai dari dalam.

“Nggih Guk* ”

Partono adalah warga Trenggalek yang sudah sekitar 10 tahunan tinggal di Prambon. Keduanya pernah berkegiatan yang sama dalam suatu acara sosial yang diselenggarakan oleh salah satu badan amil zakat di Sidoarjo. Tak heran keduanya jadi akrab.

“Lho, Partono. Onok opo, kok dungaren mrene (ada apa kok tumben kemari)”

“Ini Guk, April besok saya mau mantu. Nah, kalo sampeyan kosong, rencananya mau saya minta ngisi khotbah nikahnya.”

“Hmm…. kosong, Ton,” ujar pak Yai sambil ujung jarinya menggerak-nggerakkan layar Ponselnya.

“Alhamdulillah. Sekalian ini Guk, mau minta tolong didoakan, biar pas DER acaranya, gak hujan.”

“Oh ya, tak dongakno (saya doakan) mugo-mugo gak udan”

“Terus, uborampenya (perlengkapan) apa aja yang perlu saya siapkan, Guk?”

“Lho, doa ya gak perlu uborampe to Ton. Uborampe opo maneh?”

“Mosok gak pakek apa-apa Guk? Barangkali sapu lidi ta. Minyak serimpi ta, opo gitu?”

“Aku paham karepmu. Kamu minta aku dadi pawang hujan to?”

“Ya sebangsa itu lah. Kata orang kalo ke dukun lak syirik. Makanya saya ke sampeyan”

“Ton, berdoa itu gak butuh apa-apa. Cukup sholat yang baik, tepat waktu, ditambah rowatib, dhuha dan tahajud. Itu saja, terus tengadahkan tangan. Cik tambah manteb, disertai dengan shodaqoh yang banyak. Gusti Alloh iku gak butuh minyak serimpi, kembang setaman, sapu kebyok kayak yang kamu maksud itu. Lagian, fungsine opo”

“Kata orang biasanya gitu e…”

“Justru itu yang syirik. Walaupun yang ngarahkan itu seorang yang melek (paham) agama.”

“Maksud saya hujannya gak dihilangkan Guk. Tapi dipindah saja ke desa atau kecamatan sebelah…”

“Podo ae, Ton. Kita ini dilarang minta bantuan makhluk lain, selain kewan dan tanduran (hewan dan tumbuhan). Sekarang, gimana logikanya manusia bisa mindahkan awan, nek gak ada campur tangan pihak ketiga? Itu pertama.

Kedua, andaikan saja itu berhasil, gak jadi hujan, berapa banyak orang yang kamu sakiti, hanya gara-gara butuhmu dewe, yang harusnya hujan jadi gak hujan. Harusnya hawanya adem, jadi sumuk maneh (gerah lagi). Belum lagi kalo ngomong urusan petani, harusnya parine entuk udan (padinya dapat hujan), sekarang malah gak dapet. Berapa dosa yang kamu tanggung? Kalo sampek panennya gak berhasil, di hadapan Gusti Alloh kamu juga ikut tanggung jawab lho.”

“Kan gak tiap hari, Guk”

“Emang gak tiap hari, tapi nek semua yang punya gawe mikirnya kayak kamu gitu, bisa-bisa gak pernah ada hujan dalam sebulan. Ngawur gak, itu namanya?”

“Tapi nek nanti gak ada tamu yang dateng, keluarga saya jadi isin la’an. Padahal sudah puluhan juta dikeluarkan. Opo yang kayak gini gak tambah eman?”

“Kamu itu butuh ridhone Gusti opo ridhone tamumu?”

“Kalo bisa ya kedua-duanya”

“Nek pingin kedua-duanya, pakek saranku tadi. Sholat sing bener, dikuwati sholat sunahe, ditambah sedekah sing akeh. Baru ndungo sing bener. Gak malah golek wong digdaya, wong sakti ta wong pinter”

“Lha kata orang gitu e, Guk”

“Kita ini wong Islam, kudune (harusnya) punya keyakinan yang bulat nang Gusti Alloh. Bukan nambah perkara. Lagian, digdaya kayak yang kamu maksud itu, orangnya biasanya dikanthili utowo dimeloki (ditempeli/ diikuti) Jin. Iku wis gak bener. Saranku, yang logis-logis saja. Pakek ilmunya manusia normal. Gak usah nyari sing kayaknya ilmu dukur, tapi justru gak dibenarkan agama.”

“Jadi, iki kudu piye, Guk?”

“Balik nang saranku mau”

“Yo wis lah, nek ngono…”

Pembicaraan pun berlanjut. Gedang goreng dan wedang jahe menjadi menu siang itu. Sementara di luar, hujan turun dengan derasnya.

“Ndungo sik Ton, iki udan”

“Ndungo opo, Guk”

“Ayo tirokno (tirukan): Alloohumma shoyyiban Naafi’a”

Pagottan, 24 Januari 2016

https://soenantok.wordpress.com

——————————————————————————-

Guk = panggilan akrab khas Sidoarjo, untuk orang yang lebih tua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s