http://www.darussalaf.or.id/

Cerpen Pak Yai: Kasih Sayang

http://www.darussalaf.or.id/
http://www.darussalaf.or.id/

Sehabis sholat Maghrib, Pak Yai duduk-duduk di serambi teras masjid Kemlaten, Karang Pilang, Surabaya. Memang njanur gunung (tumben) beliau sholat di Masjid tersebut, kalau tidak karena silaturrahim ke rumahnya Sukimin, teman SDnya waktu di desa dulu.

Sambil melepas penat, karena seharian itu beraktivitas di Surabaya, lalu mampir ke Sukimin, Pak Yai membuka Quran yang selalu ada di tasnya. Belum sampai dibaca, tiba-tiba beliau diuluk-i (diucapkan) salam oleh seseorang.

“Assalaamu’alaikum pak Yai”

“Waalaikumus Salaam, Eh Jono. Ayo nyari warung kopi dulu.”

Keduanya akhirnya bermotor mencari warung kopi terdekat.

“Teko endi iki rek? Teko Jabon ta? (Dari mana ini? Dari Jabon?)”

“Ah enggak pak Yai. Dari Sepanjang. Mau ke Kemlaten gang depan situ, yang Utaranya Superindo”

“Silaturrahim ta?”

“Inggih, ke pacar saya yang baru pak Yai. Anaknya sholihah, jilbaban.”

“Jilbaban? Kok mau ya, gendhak-an?”

“Lho, emang kenapa pak Yai?”

“Kalo anak sholihah, harusnya gak mau gendhak-an. Sebab gendhak-an itu sangat dekat dengan setan. Berarti arek iku gak sholihah, Jon”

“Kok ekstrim gitu pak Yai?”

“Sekarang gini Jon. Kira-kira kamu kalo gendhak-an ngapain aja?”

“Ya… ya… gak bisa diceritakan pak Yai. Kan isin”

“Opo maneh nek sampek isin, berarti pasti onok opo-opone (apalagi kalo sampai malu, pasti ada apa-apanya)”

“Enggak kok, cuman cerita ngalor-ngidul, gandengan, sesekali ngesun”

“Nah, itu yang saya maksud. Itu zina tahap awal ya gitu itu.”

“Lho bukannya yang disebut zina itu begituan, pak Yai?”

“Iya, begituan itu zina, pegangan tangan zina, bermesra-mesraan ya zina… Walaupun kadarnya beda-beda”

“Itu kan bagi yang fanatik pak Yai…”

“Dalam beragama, tidak ada istilah fanatik dan tidak fanatik. Adanya adalah taat dan membangkang aturan agama. Kalo tidak taat, berarti membangkang. Contoh: Kanjeng Nabi melarang kita mendekati zina. Nah, gendhak-an itu sarana menuju zina. Kenapa demikian? Karena orang kalo gendhak-an gak akan ada habisnya. Awalnya pegang tangan. Lalu raba-raba perut atau pundak. Besoknya lagi, karena dibiarkan sama ceweknya, meningkat lagi ke sekwilda (sekitar wilayah dada) hingga ketemu Semeru. Kalo puas disana, atau ceweknya mbiarkan meningkat lagi ke bupati (buka paha tinggi-tinggi). Sampek ketemu ibukota. Akhire puncaknya ya tumpak-tumpak-an, nek arek-e sial yo meteng. Nek gak sial, yo wis gak prawan maneh.”

“Wah, itu terlalu ekstrim pak Yai. Saya gak sampek gitu.”

“Iya, masih tahap awal. Cobak lama-lama lak tambah berani kamu”

“Mudah-mudahan tidak pak Yai.”

“Ngomong-ngomong, kamu ke Kemlaten tadi mau ngapain? Silaturahim apa merencanakan tanggal 14 besok?”

“Ya, dua-duanya pak Yai”

“Jon, cobak kamu renungkan ya fenomena ini:

Setiap sekitar tanggal 14 Februari, penjualan kondom meningkat tajam. Kamu bisa tanya temanmu yang njaga apotik atau Indomaret ta Alfamaret. Pikirkan, apa artinya?

Kedua, sekitar Mei sampek dengan Juli, ditemukan kasus banyak kekerasan berlatar belakang asmara. Sebagian berakhir dengan pembunuhan. Biasanya cewek yang dibunuh.

Ketiga, bulan November sampek Desember ada banyak bayi lahir tanpa bapak.”

“Gak paham saya pak Yai”

“Pertama, sekitar tanggal 14 Februari, banyak anak muda sebangsa kamu ini, beli kondom. Buat apa? Ya buat begituan. Mosok disebul gae plembungan (ditiup untuk balon udara)”

“Mosok se pak Yai?”

“Iya. Kedua, banyak kasus kekerasan berlatar asmara. Artinya sekitar bulan Mei sampek Juli tadi, banyak cewek yang hamil yang minta pertanggungjawaban. Laki-lakinya gak mau, akhirnya si cewek lah yang disikat bahkan sebagian dihabisin.”

“Wih…”

“Ketiga, tentang banyaknya bayi lahir bulan November dan Desember. Itu karena dilakukan sekitar bulan Februari tadi. Ingat, lahirnya tanpa bapak. Hasil begituan tanpa ikatan pernikahan. Bukan karena keseringan diSMS wanitanya jadi hamil atau terlalu sering telpon-telponan akhirnya hamil. Pasti bukan karena itu…”

“Kalo saya sih, sebenarnya hari Valentinan itu bukan untuk berzina pak Yai. Tapi berkasih sayang aja…”

“Kasih sayang itu yang untuk halal aja Jon. Kamu sama bapakmu atau ibumu, sama sodara-sodaramu. Itu gak pa pa. Lha nek kasih sayang dengan gendhak-an, opo gak krenyeng-krenyeng. Opo gak gringgingen, kamu?”

“Justru itu yang asyik pak Yai”

“Ngawur ae, iling lho, setane adu-adu.”

“Inggih… guyon kok pak Yai”

“Kenapa gak kamu nikahi sekalian aja? Enak, tambah bebas, gak perlu ndelik-ndelik”

“Ya walaupun sudah nikah, kalo begituan ya kudu ndelik pak Yai. Nek gak ndelik lak ditonton orang.”

“Hehehe… heheh… iyo se, aku sing kleru. Maksudku, ndelik dari orang kampung alias masyarakat. Gak perlu takut dengan orang keamanan RT. Bebas, mau diuntel-untel, diwolak-walik, bahkan diuncal-uncalno yo gak masalah. Mau imbuh yo gak perlu ijin wong tuwane”

“Iya se…”

“Wis… ndang nika ae. Daripada kamu mendekati zina. Podo selamet-e. Lha buat yang jik sekolah, mendingan gak usah mikir gendhakan. Sekolah sing rajin. Daripada hamil, apa gak tambah buyar semuanya. Iya kan?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s