http://4.bp.blogspot.com/-LaSgUZRpLkU/U6tzPw6pttI/AAAAAAAABR4/1eQFswcpQbQ/s1600/313436_193325004075135_100001929091324_436265_1058647727_n.jpg

Cerpen Pak Yai: Meso

http://4.bp.blogspot.com/-LaSgUZRpLkU/U6tzPw6pttI/AAAAAAAABR4/1eQFswcpQbQ/s1600/313436_193325004075135_100001929091324_436265_1058647727_n.jpgSehabis sholat dzuhur, pak Yai berkeliling desa. Ini sudah menjadi kebiasaan beliau, 5 tahun belakangan ini. Mengambil jalan pulang, yang tidak sama dengan jalan berangkat. Kata kanjeng nabi, yang demikian itu nyunah. Rute yang beliau lalui cukup jauh. Karena sebenarnya Musholla yang beliau gunakan sholat jamaah adalah di belakang komplek pesantren. Muternya sampek 2 km. Tapi apa mau dikata, kalo sudah bagian dari kesenangan, jarak menjadi bukan halangan. Tiba-tiba…
“Ooo… ancene Ja*c*k iku!!! Arek kok mbethik. Mau jadi bajingan ya kamu. Dasar Bab*??!!!”
“Lha bapak se, gak mau dengar… Kalo gini aku minggat aja”
“Ee…. mau kemana??!! Dasar anake A*u iku…!!!”
Sambil bersungut-sungut, Parli masuk warung Ning Yah. Pak Yai geleng-geleng kepala. Beliau masuk warung juga.
“Kopi nggereng (kopi angger ireng, asal hitam), Yah…”
“Nggih pak Yai. Lha sampeyan Cak Li, kopi juga ta?”
“Gak Ning. Aku es Joss aja. Rasa blek karen ya”
“Ok”
“Onok opo Li, kok ingon-ingonmu (hewan peliharaan) kamu lepaskan semua?”
“…. (keluh)… anak saya nggregetno pak Yai. Masak masih kelas 2 SMP sudah meteng. Itu kan masih kencur. Jik cilik wis meteng. Saya kan jadi kisinan sama tetangga”
“Astaghfirullohal ‘Adziim… meteng?”
“Makanya itu pak Yai. Sapa yang gak mangkel…. Monggo saya minum dulu.
Sruuup…. ahhh…. seger….”
“Yang menghamili sapa Li?”
“Ya gendakannya (pacar). Sapa lagi?”
“Lha dulu, gimana lo. Apa kamu ijinkan anakmu gendakan?”
“Ah pak Yai. Anak sekarang kan, biar masih SD, sudah gendakan. Kalo nggak gitu Gak modern, gak gaul, katanya. Akhirnya, saya sebagai ortu, terpaksa ngijinkan. Gak taunya, begini. Dasar anak-e A*u!!!”
“Kamu bilang anak-e asu, lha itu td anaknya sopo lho?”
“Ya anak saya, pak Yai”
“Berarti kamu bangasane iku mau la’an. Li, ngomong sing apik-apik. Gak usah meso (mengumpat). Didengar jg gak enak.”
“Gak lega pak Yai, nek gak dipisui”
“Sekarang kamu lega. Tahu nggak, makin sering kamu meso, serasa makin kurang mantap. Butuh dosis meso yg lbh tinggi. Besoknya kurang lagi, kurang lagi, gitu terus. Gak ada habisnya. Pertama yang disebut jandil, terus jadi jangkrik. besoknya lagi asu, lusa babi, besoknya lagi jaran, terakhir jan**k. Masih kurang mantap, dikombinasi antara nama kewan dengan jan**k. Kalo masih gak mantep, disebut jeneng kewan + jan**k + kotorane sekalian. Terus kapan selesainya. Lama-lama, kewan sak kebon binatang plus kotorane kamu panggil semua.”
“Ndak tahu pak Yai…”
“Li, meso itu mirip orang ngerokok. Sama dengan minum air laut. Makin diminum, makin haus. Kurang terus, kurang terus. Ketagihan. Bener gak?”
“Nggih betul pak Yai”
“Kamu nek jik tetep seneng meso, atimu gak iso resik lho, Li. Kotor. Kemrungsung terus. Gak bisa sabar. Sebab gandengannya sabar itu ya omongan yang selalu terkontrol. Buktinya itu td nggak bisa ngontrol. Sampek bilang anake asu.”
Tubuh Parli bergetar. Pingin rasanya misuhi pak Yai. Tapi karena sungkan, niat itu diurungkan. Gak berani.
“Li, aku tahu, kamu pingin misuh. Lebih tepatnya misuhi aku. Kenapa gak kamu lakukan?”
“Ah pak Yai, gak berani saya”
“Kenopo?”
“Sungkan pak Yai”
“Andaikan saja rasa sungkanmu itu ditaruh pada tempatnya, pasti kamu gak akan misuh”
“Maksudnya, pak Yai?”
“Kalo seandainya kamu sungkan sama Gusti Alloh, kamu pasti gak akan berani misuh.”
“hmmm… Lalu, ttg anak saya yg meteng tadi enaknya diapakan pak Yai?”
“Yo rabekno sama yang ngetengi itu. Gendakannya”
“Kan masih sekolah”
“Gak urus, masih sekolah atau tidak. Yang pasti, tanggung jawab. Kalo anak itu gak mau tanggung jawab, tuntuten wong tuwane. Minimal dia harus nanggung biaya persalinane mbesuk. Nah, sekarang sing wis yo uwis, gak usah dibaleni, gak usah digetuni (disesali), kalo realitanya kayak gini, ya harus dihadapi. Gak onok pilihan. Sekarang, kamu harus janji, adike jangan ijinkan gendakan. Daripada meteng sisan?”
“Nggih pak Yai”
“Satu lagi, nek pingin meso lagi, diiling-iling, sungkan sama….”
“Gusti Alloh”
“Pinter…”

Ambon, 24 Juni 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s