Cerpen Pak Yai, Waris

Cerpen Pak Yai: Hukum Waris

Sore itu, Pak Yai sambang ke kebon tebu yang tak jauh dari pondok. Jalan kaki ke dusun sebelah. Tidak lama, Pak Yai bertemu dengan Tommy yang sedang tergopoh-gopoh.Cerpen Pak Yai, Waris
“Pak Yai, mertua saya meninggal”
“Innaalillaahi wa innaa ilaihi Rooji’uun… Barusan?”
“Iya jam 3 tadi. Nggak tahu, kayaknya kena angin duduk”
“Tadi pagi masih ngobrol di dekat rumah Pa’i lho. Ya Alloh namanya ajal ya, gak bisa disangka”
“Cuman itu pak Yai, sodara istri saya tiba-tiba ngajak ngomong warisan. Itu rame sekali di rumah. Gegeran. Padahal jenazah bapak belum dikubur”
“Aku ikut prihatin Tom, dengan sodara istrimu. Menurutku sah-sah saja, cuman kok kesannya kurang sopan. Gak enak disawang. Durung dikubur kok wis royokan”
“Itu lah pak Yai, saya juga bingung. Dan yang bikin saya senewen, mereka menghendaki pembagiannya sesuai hukum Islam. Terutama yang laki. Pak Yai tahu kan, mertua saya itu kan raja tanah di Prambon”
“Lho, yang salah apa Tom, kalo dibagi menurut hukum Islam?”
“Menurut saya gak adil itu, pak Yai. Mosok laki sama perempuan gak dibagi sama rata”
“Ooo… Gitu, maksudmu.”
“Iya pak Yai”
“Tom, kamu kan manajer di (perusahaan) peti kemas, Perak?”
“Betul pak Yai”
“Gajimu kalo disamakan dengan bagian admin, mau?”
“Ya jelas saya yang gak terima pak Yai”
“Lho kenapa? Bukannya itu adil?”
“Adil dari mana pak Yai? Mereka hanya ngurusi administrasi. Surat menyurat. Lha saya, tanggung jawab sama peti kemasnya. Isinya. Kalo ada apa-apa pasti saya yang dieret-eret (dibawa-bawa). Ya wajar lah gajinya beda. Jauuuh….”
“Berarti, gaji itu berhubungan dengan tanggung jawab?”
“Pasti!”
“Tom, setiap laki-laki itu dimintai pertanggungjawaban atas 4 wanita, tentu selain anak laki-lakinya juga. Ibunya, istrinya, anak perempuannya, dan sodara perempuannya. Di akherat”
“Tak kira cuman istri dan anaknya”
“Nggak lah! Jadi kalo seandainya diantara 4 wanita itu ada yang gak beres, sementara si laki-laki ini gak pernah ndidik, atau memperingatkan, atau mbimbing, wis gak isok dibayangno, hampir pasti diakhirat nanti dieret-eret (dibawa-bawa, disangkut pautkan, ikut disalahkan). Tahu sendiri kan, di akhirat itu gak ada yang bisa disogok, gak bisa dipikat sama cewek, atau dikasih gratifikasi. Sekarang, kalo kamu nuntut Gusti Alloh ngrevisi hukum warisnya, hanya gara-gara pengetahuanmu yang ‘gak gaduk’ (tidak nyampek, pikirannya belum bisa menjangkau) menurutku biar adil, kamu juga harus mau dituntut anak buahmu atau juraganmu, agar gajimu sama dengan bagian admin atau satpam sekalian. Gimana?”
“Nggih pak Yai, sekarang saya paham adilnya hukum Islam”

Taman, Madiun, 25 Desember 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s