Pajak

Cerpen Pak Yai: Lapor Pajak

Siang itu, di KPP Sidoarjo Barat ada orang nguamuk. Nggebrak meja, misuh. Berbagai jenis hewan telah disebutnya. Gak sampek disitu, si “orang kuat” ini nantang Kepala Kantor. Gak masuk akal. Dia berasumsi urusan lapor pajaknya dipersulit. Diputer-puter. Mbulet koyok susur. PajakDianggap minta duwit, temannya Gayus, dsb. Semua pegawai pajak terdiam. WP yang lapor pun diam. Diam karena yang ngamuk itu nampak arogan dan tidak terpelajar. Salah satu pegawai yang agak sepuh mencoba mendiamkan. Tidak tahu, apa yang dibicarakan, singkat cerita si orang kuat tadi pergi, walaupun sambil misuh-misuh lagi. Seakan hewan yang telah dilepaskannya tadi kurang banyak. Ada anjing, jaran, beserta kotorannya, j****k (kawin), dsb. Walaupun haqqul yaqin, hewan-hewan tadi tidak pernah ikut andil dalam kesalahan orang itu.
Melihat hal itu, pak Yai yang juga sedang lapor pajak, sekaligus mengajukan nomer faktur pajak, hanya geleng-geleng. Piye to wong iki. Andai dia mau sabar dan mau bertanya, pasti akan ngerti dengan sendirinya. Pak Yai pun dulu merasa ruwet. Nulis form isiannya terasa angel dan mbulet. Tapi sejak diberi arahan petugas waktu itu, sekarang sudah tidak lagi. Yang jelas bukan karena pegawai pajaknya yang ayu, tapi penjelasannya yang bikin mudeng.
Andik, tetangga desa di Tulangan komentar, “Memang wong pajak akeh korupsine”
“Kok kamu ngomong gitu, nDik?”
“Lha orang itu tadi, dibulet-bulet, sampek misuh-misuh kayak gitu, pak Yai”
“Ojok kesusu nuduh… Gak apik. Andaikan tuduhanmu bener itu namanya nggibah alias ngrasani. Duso. Tapi nek gak bener, iku jenenge pitenah. Tambah akeh maneh dusane. Emang tahu dari mana kalo korupsi?”
“Masalah sesederhana itu lho pak Yai, harusnya kan bisa dibikin simpel. Gak mbulet. Laporannya juga dibikin gak memusingkan kepala… Opo gak minta duwit, itu tadi”
“Ealah nDik, jaman koyok ngene kok pikiran ngeres. Kalo kamu mikirnya gitu, berarti yang nggak beres itu pikiranmu. Orang yang mikirnya lurus, gak bakalan kepikiran sing aneh-aneh. Orang yang selalu berpikiran korupsi, biasanya dia juga pelakunya. Jadi kalo seandainya omonganmu tadi bener, harusnya setiap yang datang kesini ngamuk. Nyatanya nggak to? Hanya dia dan kamu saja.”
“Ngisi formnya itu lho yang mbulet. Pusing”
“Ndik. Nek menurutku iku sing sakti desainer form-e. Misal lho ya, nek sing ndesain itu kamu, tak pastikan, pasti kisruh kabeh. Hanya bisa diisi kamu sendiri, terus lembarane uakeh”
“Kok gitu pak Yai?”
“Lha form itu didesain harus bisa diisi oleh semua profesi. Tanpa terkecuali. Mulai tukang jahit sampek pengusaha multinasional. Termasuk kamu desainer grapis dan aku, kyai ndeso. Lapor pajak yo pakek form yang sama.”
“Lha njenengan yang dilaporkan apanya pak Yai?”
“Aku kan punya usaha, sering setor nang pabrik. Selain itu, nek lagi ngisi (ceramah) di mana-mana amplopku dipotong pajak. Tapi yo biar aja. Lha wong sisane jik akeh”
“Ooo…”
“Biyen aku juga pusing ngisi form. Bu Nyai tak suruh yang lapor, malah nggak mau. Katanya njaga pesantren ae, gak pingin metu-metu. Yo wis, akhire aku sing lapor dewe.”
“Kok gak santrinya aja pak Yai, yang disuruh lapor?”
“Nggak ah, itu sama artinya dengan bedah rumah. Ketok kabeh. Ngomong-ngomong, emang kamu sudah bisa ngisi?”
“Belum”
“Saranku, kamu ke helpdesk aja dulu, minta dipandu. Cik gak mbolak-mbalik”
“Nggih. Berarti antri lagi, la’an?”
“Ya iya lah. Cik gak isin, miliho sing pegawe lanang ae. Kalo yang pegawe wedok dan ayu, aku kuwatir saat dijelaskan kamu gak mudeng-mudeng, tambah ketok goblok.”
“Gak enak pak Yai iki… Nggih pun…”

nJati, Darjo, 4 Februari 2016
https://soenantok.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s