penggaris

Al Quran dan Penggaris

penggarisPagi itu, pak Yai jalan-jalan di depan hotel, kota Jombang setelah semalaman ada acara di Kabupaten. Menginap di hotel, rencananya siang pulang. Sebelum pulang, muter-muter dulu. Mulai Tebu Ireng, menemui Gozi. Lalu ke Peterongan silaturahim ke Jumadi. Ke Kauman ngampiri Oyik dan terakhir ke Tambak Beras. Entah cukup atau tidak nanti waktunya.

Sebelum menemui rekan-rekannya itu, disempatkannya telpon. Agar nanti kalo dikunjungi, tidak sampek mengagetkan. Namun, dari sekian rekannya yang ditelpon, hanya Jumadi yang tidak bisa, tapi sebagai gantinya, dia akan menemui pak Yai di seputaran Watertorn kota Jombang.

Seperti biasa, dicarilah warung kopi untuk sekedar ngobrol dengan Jumadi.

“Pak Yai, menurut sampeyan Quran itu sudah sempurna apa belum?” Tanya Jumadi

“Yo jelas sempurna, Jum”

“Buktinya?”

“Tidak ada pertentangan, masih bisa dipakek sampek kapanpun, ringkas dan cerdas. Emang kenapa kok dungaren kamu tanya kayak gitu”

“Kok saya ragu ya”

“Kalo ragu, berarti kamu harus punya pembanding yang lebih sempurna yang tidak ada keragu-raguan di dalamnya”

“Mosok di dalam Quran ada perintah bunuh diri (Al Baqoroh: 54)”

“Jum, kamu harus baca sebelum ayat itu, itu taubatnya siapa. Udah baca belum?”

“Belum pak Yai. Cuman dikasih tahu teman”

“Nah, itulah… wong Islam iku kudu kroscek. Sebab kalo gak gitu bisa kesasar. Kayak ini tadi. Tak jelaskan ya, ayat itu bercerita tentang umat Nabi Musa. Memang saat itu, syariat taubatnya umat Nabi Musa dengan cara bunuh diri. Bagaimana dengan umat nabi Muhammad? Ternyata syariat itu sudah diperbaharui dengan kata lain dihapus. Cobak nanti liat ya di An-Nisa’ : 29 dan QS. Al-Kahfi : 6. Jik ditambah hadits-hadits sak klumbruk (banyak sekali). ”

“Kok direvisi pak Yai?”

“Syariat lama, bisa direvisi oleh syariatnya Nabi Muhammad. Banyak hukum yang direvisi jamannya Nabi Muhammad. Termasuk larangan pakek pakaian yang dari kain terdiri dari 2 bahan atau lebih. Itu sebelumnya berlaku hingga jamannya nabi Isa. Cobak nek gak direvisi, kamu sekarang nek klambian pakek blaco. Gelem?”

“Hiii… gatel kabeh pak Yai”

“Makanya. Tapi tidak semua syariat itu direvisi. Ada yang diteruskan. Ada juga yang diteruskan, tapi diubah dikit. Seperti sunat, haji, poso, dsb. Itu syariatnya Jaman Nabi Ibrahim. Dan gak pernah dihapus. Nek kabeh dihapus, berarti kamu boleh gak sunat.”

“Gak enak pak Yai, nek gak sunat?”

“Kok gak enak?”

“Saya sunat itu setelah nikah. Waduh, nyantol-nyantol. Tambah lara kabeh”

“Wis… nek ngomong rusuh kok kamu semangat.”

“Manusiawi pak Yai…”

“Yo gak ngono. Iku lak karepmu dewe. Gini Jum. Quran itu ibarat penggaris. Kalo kamu gak percaya dengan penggaris, berarti kamu gak perlu alat ukur panjang. Lha wong standarnya gak ada. Paling yang diomong hanya bentuk kira-kira. Contoh, panjang meja itu, kira-kira segini. Pakek tangan. Saat diomongkan orang lagi, tangan bisa berubah. Gak standar. Bagaimana kalo seandainya penggarisnya yang rusak? Dikatakan rusak, kalo ada pembanding yang setara dan itu harus dilegalisasi oleh pihak yang kompeten dan dipercaya. Selama itu tidak terjadi, berarti penggaris itu baik-baik saja. Bagaimana kalo penggaris ini disalahkan orang? Kita harus lihat dulu, penggaris dia itu bagaimana? Jangan-jangan dia salah tafsir dalam pengukurannya.”

“Begitu ya?”

“Biar gak salah tafsir, sebaiknya kita banyak belajar agama. Sinau maneh. Gak harus ke Kyai atau guru ngaji. Tapi kalo gak ngerti, jangan tanya ke orang yang tidak kompeten. Tambah nyasar kemana-mana. Gak ngerti tuntunan poso Romadhon, takok nang pendeta. Yo kliru. Pasti jawabannya tidak sebaik jawabannya kyai atau ahli agama Islam.”

“Nggih pun, nek ngoten. Kulo sing keliru…”

Sejak itu, Jumadi mulai rajin belajar Quran.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s