Kucing

Brai

“Dari mana Wan?”
“Dari rumah, pak Yai. Ini td habis mandi, langsung ke sini”
Sambil berjalan ke tempat kondangan, tiba-tiba tercium bau gak sedap. Tahi kucing. Mak Nyooosshhh…
“Yek juh!!! Kucinge sopooo iki, ngising sembarangan”
“Menurutmu, bau itu ngganggu gak?”
“Ya jelas nganggu lah pak Yai”
“Siapa aja yang terganggu?”
“Ya siapa aja, kalo baunya gak enak, pasti ngganggu.”
“Kalo bau badan atau bau kelek?”
“Nuwun sewu, apa pak Yai niat nyinggung saya?”
“Wan, sebenarnya bau tahi kucing, bau kelek, bau badan, bau sampah, dan bau-bau yang lainnya, selama gak disukai, sama saja: NGGANGGU”
“Maksud pak Yai, saya bau, sehingga ngganggu lingkungan? Selama ini sih Istri dan keluarga saya gak pernah protes.”
“Istrimu bau?”
“Gak boleh pak Yai. Wanita itu harus menyenangkan suami. Secara umum, laki-laki suka wanita yang wangi.”
“Kamu tahu Wan, wanita juga medambakan laki-laki yang wangi. Termasuk istrimu, mendambakan kamu tampil wangi. Cuman dia aja yang gak berani bilang. Jadi kl ada yg mengatakan wanita harus tampil menyenangkan bagi suaminya, itu sebenarnya jg berlaku buat laki-laki. Laki-laki harus tampil  menyenangkan di hadapan istrinya.
Jadi kalo laki-laki sehari-hari bau kelek, bau tengik, mambu kringet, dan gak berusaha meminimalisir sama sekali, itu sama artinya dengan menyiksa lingkungan. Termasuk juga nyiksa istri, dan ngajari anak agar gak mempedulikan bau badan.
Kamu tahu Wan, dalam pandanganku, bau kelek dengan bau tahi kucing itu derajatnya sama. Hanya beda launchingnya saja. Satu dari ketiak yang tengik, satunya lagi dari Silite kucing”
“Mmm…. Apa pak Yai tersiksa?”
“Iya pasti lah. Lha wong baumu lorek-lorek gitu. Ngomong-ngomong, kamu pakek diodoran?”
“Nuwun sewu, diodoran itu apa pak Yai?”
“Obat kelek”
“Ah, pak Yai kayak cewek aja pakek diodoran…”
“Wan, kalo kamu bisa ngusir bau badanmu tanpa diodoran, seperti pakek tawas, wedak, kemangi, daun luntas, dsb. Silahkan. Tapi kalo enggak, berarti keterlaluan kamu.
Aku tanya, apa usahamu menghilangkannya, selama ini?”
“Gak ada pak Yai, lha wong gak ada yang protes. Saya kira ya semuanya baik-baik saja.”
“Sekarang aku yang protes. Kira-kira apa yang kamu lakukan?”
“Emm… gimana ya?”
“Nih, pakek diodoran ini. Tinggal gosok di kelek. Gak usah isin, gak perlu merasa kayak cewek. Yang penting sudah berusaha. Daripada ngganggu lingkungan, eman hidungku dan hidungnya orang-orang di sekelilingmu, Wan.”
“Emm…”
“Lho, ayo… tinggal makek aja kok mikir.”
“Nggih… nggih…”
Sejak itu Marwan selalu tampil wangi, minimal gak bau. Dan istrinya tidak sering uring-uringan lagi.

Sidoarjo, 11 Mei 2015

Cerita ini diilhami oleh ceramah  Prof. Achmad Zahro, dlm sebuah komunitas pengajian Az Zahra, Sidoarjo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s