sholat

Sholat Jamaah

Sholat Jamaah

Siang itu demikian terik. Tidak ada awan, langit bersih sehingga matahari dengan mudah memanggang siapapun yg tidak berteduh darinya. Kambing dan sapi nampak bermalas2an dibawah pohon trembesi. Tidak jauh dari tempat itu, ada sebuah langgar dekat sawah. Langgarnya pak Yai. Sengaja beliau memisahkan langgar tersebut dari komplek pesantren yg beliau pimpin, agar masyarakat bisa dengan mudah memanfaatkan. Biasanya 30 menit sebelum adzan, beliau sempatkan blakrakan ke luar pesantren untuk sekadar ngajak orang-orang yg belum pingin berjamaah. Pulangnya pun, beliau milih jalan muter, jauh. 

Tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam rumah di sebelah mulut gang.
“Son…!!!, Sooon…!!!, Soooooon… !!!”
“Kamu manggil sapa Mul?”
“Soni, itu anak saya yg main disawah seberang, yang pakek celana Ijo itu Pak Yai. Dia itu nggregetno. Dipanggil-panggil, padahal dengar, tapi nggak ngreken sama sekali.”
“Emang mau kamu suruh apa?”
“Mau saya suruh makan. Susah-susah dimasakkan kesukaannya, sama ibunya. Begitu mateng, dipanggil2 gak nyahut. Padahal, kalo sudah ngrasakan, tanduk sampek 3x. Kl minta macem-macem, sak deg sak nyet. Nek mboten dituruti, gulung-gulung. Gimana cobak Pak Yai.”
“Dia terlalu asik mainnya be’e, Mul.”
“Wah, ya menurut saya gak boleh gitu. Ibunya sudah susah-susah…”
Tiba-tiba terdengar suara adzan dari langgarnya Pak Yai.
“Mul, udah adzan. Ayo berangkat.”
“Ngapunten, saya nanti saja.”
“Kenapa nanti?”
“Kan gak harus sekarang pak Yai. Waktunya masih panjang.”
“Mul, menurutmu Adzan itu apa?”
“Panggilan sholat.”
“Yang dipanggil siapa?”
“Ya yang mau sholat”
“Jadi kamu gak mau sholat? Atau bukan yang termasuk yang dipanggil?
Kamu manggil2 anakmu, dia gak ngreken, kamu marah. Lha ini, dipanggil Gusti Alloh, 5x dalam sehari, gak ngreken, kira2 marah gak, Gusti Alloh? Kalo minta, berdoa sampek nangis-nangis, terus gak dikabulno, su’udzon.
Berarti kamu gak adil, Mul. Gak sopan itu namanya”
“Lha terus pripun Pak Yai?”
“Ya kalo ada adzan ya harus segera budhal. Lha wong dipanggil.”
“Nggih pun pak Yai, saya berangkat”

Delta Surya, Sidoarjo, 8 Mei 2015

2 thoughts on “Sholat Jamaah”

  1. Terus terang, saya membaca tulisan njenengan ini secara tidak sengaja. Tulisan seperti ini bagus, mudah dicerna. Kebetulan, saya juga suka menulis, tetapi sementara saya bubukan (untuk teman-teman saya), bukan online.
    Mohon maaf, sedikit saran, Sebaiknya narasi tulisan njenengan ditambah, dialog dikurangi. Biar seimbang.Dialog tanpa narasi, maaf, kurang enak dibaca. Sebaliknya narasi kurang dialog, terasa kering.
    O ya, usul lagi, background blok njenenngan ini kalau bisa jangan hitam. Maklum untuk mata pembaca yang genap setengah abat seperti saya ini kok kurang pas.
    Sekali lagi ngapunten, tidak bermaksud menggurui. Ilmu njenengan pasti lebih mumpuni. Sayang, saya sudah terhempas dari Taman Pinang Indah, Sidoarjo. Seandainya masih di sana, saya bisa sowan njenengan untuk berguru.

    1. Eh, maaf Pak Nanto, saya membaca tulisan njenengan terpotong. Saya tidak tahu kalau di atas ada narasi. Maklum, pikiran lagi galau, order lagi sepi hee…hee.. heee. Sekali lagi, mohon maaf.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s