Minta Cerai

“Pak Yai, istri saya minta cerai”

“Sik to, iki onok opo, kok tiba2 minta cerai?”
“Istri saya gak tahan dengan saya.”
“Ngomong sing jelas, jangan subyektif. Apa anakmu gak kamu kasih makan?”
“Endak, pak Yai”
“Opo istrimu minta macem2 gak pernah kamu turuti?”
“Kayaknya jg enggak. Lha wong saya itu sangat sayang. Apa2 saya belikan. Saya turuti”
“Apa dia pernah kamu larang ngibadah?”
“Jangan sampek pak Yai! Naudzubillah. Urusan ibadah saya bebaskan sebebas2nya. Bahkan kl pingin umroh setiap bulan, saya sanggup.”
“Percoyo… percoyo… Kolonel dilawan. Apa ada masalah di ranjang?”
“Wah itu yang saya nggak tahu. Kl saya, jelas perkasa pak Yai. Mau 45 menit, atau 3 ronde semalam, saya kuat. Cuman…”
“Cuman opo?”
“Dia sering sakit, kalo saya ajak begituan…”
“Di, bapakmu kan petani Krembung. Kalo nggarap sawah gimana, sebelum ditanami?”
“Digaru, diluku, di…”
“Lha wong nandur pari saja diperlakukan seperti itu, mosok bojo mau ditanduri langsung main gaprak? Yang bener aja Di.”
“Maksud pak Yai?”
“Wong putri itu kayak sawah. Petaninya itu ya bangsanya aku, kamu, dan semua lelaki di dunia ini. Nandur gak boleh sembarangan. Butuh perlakuan awal. Butuh pupuk, dsb. Kalo sudah melewati fase itu semua, baru ditanduri. Mau nandur sambil jungkir walik, guling koming, pencolotan, jg gpp. Tapi ingat, nandur itu ke tanah bukan ke sumur. Sawahnya pun sawah kita sendiri. Bukan sawah tetangga, sawahnya teman, apalagi sawah tak bertuan. Wong putri juga gitu, butuh perlakuan awal, disayang2, disun, dikasih kata-kata mesra, dan seterusnya. Baru masuk ke pokok masalah. Mau jurus apa aja silahkan. Asal sepakat. Podo enake. Nek salah satu gak enak, jangan diteruskan. Lha nek dimodel langsungan ae, terus apa bedanya kita dengan wedhus?”
Pardi mengangguk-angguk.
“Sekarang, kamu minta maaf ke istrimu. Gak usah isin, gak usah gengsi. Daripada kehilangan keluarga, kamu.”
“Saya malu pa Yai”
“Malu yg tidak pada tempatnya itu gak baik. Aku dengar, kamu komandan yg santun dan suka meminta maaf di kesatuanmu. Kenapa gak berlaku untuk istrimu?”
“Beda pak Yai…”
“Di, istrimu jauh lebih berhak mendapat permintaanmaafmu. Bukan orang lain”
“Tapi…”
“Sekarang muliho. Jangan kesini lagi sebelum ada kata maaf dari mulutmu untuk istrimu. Rubah kebiasaan ranjangmu. Baru kamu boleh kesini lagi.”
Satu bulan kemudian, Letkol Supardi yang berdinas di Madura datang lagi ke Sidoarjo. Kali ini bersama istrinya. Mesam-mesem. Nampak enteng langkahnya.
“Gimana Di?”
“Wah Joss pak Yai. Istri saya sampek ikut tanduk.”
“Bukan, maksudku apa kamu sudah minta maaf?”
“Sampun, saya ceritakan yg tempo hari. Sambil saya sayang2. Istri saya nangis. Terus gitu deh…”
“Yo wis, Alhamdulillah nek ngono.”

Sidoarjo, 29 April 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s