Resolusi

Resolusi Bitmap (actionprintinginc.com)
Resolusi Bitmap (actionprintinginc.com)

Ketika kita bekerja dengan vektor (file-file yang dihasilkan oleh CorelDRAW, Ilustrator, Freehand, K1,  (Linux), Sodipodi, CAD, dsb), untuk resolusi bukan masalah. Sebab software-software tersebut “tidak memiliki resolusi”. Sehingga, saat diperkecil menjadi ukuran berapapun, atau diperbesar seukuran lapangan sepak bola sekalipun, tidak menghasilkan dampak apapun. Nah, ini hebatnya vektor.

Permasalahannya, tidak semua desain yang melibatkan gambar bisa diselesaikan dengan vektor. “Tangan-tangan” bitmap (berbasis pixel) hampir wajib dicampurkan, agar muncul tampilan yang lebih segar dan hidup. Foto, misalnya. Jelas, foto adalah bitmap. Karena ada unsur bitmap, maka topik tentang resolusi juga wajib dikemukakan.

Beberapa saat yang lalu, tempat kerja kami kedatangan tamu. Sekumpulan anak muda dari jurusan Desain dan Multimedia salah satu SMK di Sidoarjo, Jawa Timur. Mereka datang dengan maksud “minta petunjuk” alias bimbingan Tugas Akhir. Saat sesi pertama berdiskusi, yang saya tanyakan adalah “kalian mau m’buat apa?”. Ternyata mereka tidak seragam. Yah, mestinya memang begitu. Ada yang ingin buat buku katalog, album foto, banner, dsb. Pertanyaan selanjutnya:

“Untuk yang buat banner, kalian mau pakek program apa?”
“Photoshop”.
“Emang bannermu tampilannya fullfoto?”
“Tidak, pak. Ya background biasa, terus ada gambar sedikit, lalu tulisan.”
“Kok gak pakek CorelDRAW atau Illustrator aja?”
“Ya… karena saya lebih senang pakek Fotosop, pak”

Mendengar jawaban terakhir, rasanya pingin ketawa. Mengapa? Karena mereka tidak faham, bahwasannya software atau program komputer itu ada spesialisasinya. Sehingga, keliru memilih software, akan berat pekerjaannya, dan akan konyol sepanjang hari. Karena kekeliruan ini tidak terlalu fatal, saya biarkan. Lalu saya tanya lagi:

“Resolusi berapa?”
“300 DPI”
“Ukuran filenya berapa?”
“800 MB”

“(Bergumam)… Kalo pakek CorelDRAW atau Illustrator, mungkin filemu tidak lebih dari 70 MB. Apa Gurumu nggak ngarahkan, tentang yang  ini?”
“Endak pak. Beliau membebaskan kami pakek program apa saja.”

Jawaban terakhir ini, cukup miris bagi saya. Guru, kadangkala tidak faham masalah lapangan. Bahkan banyak diantara beliau yang tidak terlalu mengerti, fungsi asli dari masing-masing software. Maka tidak heran, kalau banyak diantara murid-murid mereka yang “memilih program” secara ngawur.

Tiba pada murid yang lain, ternyata ada yang ingin membuat majalah. Pertanyaannya pun sama.

“Katanya majalahnya sudah jadi ya. Pakek program apa?”
“Pakek fotosop, pak”

Waduh fatal ini. Saya tidak bisa membayangkan majalah 32 halaman, dengan fotosop. Betul-betul tanpa pengarahan. Mereka bekerja dengan liar, tanpa peduli peruntukan. Andaikan saya tanya mengapa pakek fotosop, hampir pasti dia akan menjawab, karena suka.

Ternyata guru-guru mereka memberikan arahan, kalau untuk percetakan, maka resolusinya minimal 300 DPI. Tanpa terkecuali. Maka tidak heran, ketika spanduk, banner, baliho bikinan mereka resolusinya tetep 300 DPI. Alhasil, ukuran filenya jadi supergemuk, dan pekerjaan mereka tidak kelar-kelar. Bayangkan kalau saja baliho ukuran 4×6 m, bisa berapa lama mereka bekerja.

Pelajaran yang bisa dipetik, tidak seharusnya kita bertahan dengan kata “suka” dan “tidak suka” dengan suatu program. Kecuali “bisa” atau “tidak bisa”. Artinya, selama kita bisa menggunakan software yang cocok, maka lakukanlah sesuai dengan spesialisasi softwarenya. Contoh, bila bekerja dengan bitmap, lakukan dengan Adobe Photoshop, PaintShop Pro, Corel PhotoPaint, Gimp, atau yang lainnya. Sedangkan vektor, bisa dengan CorelDRAW, Adobe Illustrator, Macromedia Freehand, K1, dsb.

Untuk pengalaman:

  • Keperluan percetakan murni seperti brosur, poster, majalah, buku, dsb, resolusi bisa dipatok 300 DPI
  • Cetak Superbesar 150 DPI: Banner, X-Banner, Roll Banner, dengan luas dimensi sekitar 3 m2.
  • Cetak Superbesar 72 DPI: Baliho, Spanduk, Neon Sign, dengan luas dimensi sekitar 6-12 m2
  • Cetak Superbesar 25 – 70 DPI: Baliho, Spanduk, dsb dengan luasan dimensi sekitar
  • Foto: rata-rata sebaiknya menggunakan resolusi 300 DPI pada ukuran fisik yang sesungguhnya.

11 thoughts on “Resolusi”

  1. Assalammualaikum…
    maaf megganggu, sya astri, mau bertanya…
    kan kalau di corel draw untuk membuat poster ukuran 50 cm x 70 cm kan kombinasi antara image/foto dengan tulisan, nah sebelum di export ke bentuk JPEG apa perlu diubah dulu ke bentuk bitmap agar hasil JPEGnya ndak pecah saat dicetak? atau langsng di export aja dlm bentuk JPEG dg resolusi 300 dpi?… mohon penerangannya..terima kasih ^_^

    1. Waalaikumus Salaam Wr Wb.
      Salam kenal mbak Astri
      Kalau menurut saya, mendingan langsung diexport saja. Sebab ketika dibitmapkan terlebih dahulu lalu diexport, berarti ada 2 proses bitmap.
      Dalam bayangan saya, setiap proses mem-bitmap-kan akan ada penurunan kualitas. Walaupun kecil.
      Mudah-mudahan membantu.

  2. Assalamualaikum….
    saya mw tanya…..kenapa ya ketika mendesign di illustrator, ketika memasukkan foto, setelah penyimpanan ukuran file nya jadi membengkak? apakah design di illustrator tidak bagus untuk foto? dan bagaimana cara lain ketika mendesign di illustrator menggunakan foto supaya tidak bengkak size filenya. Terima Kasih…
    Assalamualaikum

    1. Wa’alaikumus Salaam Wr wb.

      Mohon maaf telat, penambahan foto pasti menambah ukuran file grafis.
      Hal ini dikarenakan foto tersebut DITUMPANGKAN ke dalam file grafis kita. Umumnya ukuran bitmap yang resolusi tinggi, filenya besar.
      Solusi? Silahkan impor file foto tersebut dengan menggunakan sistem LINK jangan EMBED. Cuman ketika file dibawa, fotonya harus ikut disertakan juga. Solusi lainnya, Saya rasa masih belum ada.
      Ada yang tahu?

      1. Alternatif lain pake cara pengecilan ukuran file foto/gambar tersebut lebih dahulu. Bisa dengan photoshop, file foto/gambar dibuka di photoshop dan kemudian “save for web”, ada menu pilihan untuk save sebagai jpg/png/dll dan option lainnya yang diperlukan. Hasil dari “save for web” ini biasanya berukuran setengah dari ukuran file asli sebelumnya, tergantung option yang diterapkan waktu savenya juga sih.. tapi bisa meminimalisir biar ga bengkak sizenya.
        Cara ini biasa saya pakai untuk keperluan foto/gambar yang akan disertakan pada adobe-indesign-ilustrator, coreldraw, excel, msword, dll, terutama yang hasil kerja tersebut nantinya saya jadikan sebagai PDF file.
        Tapi kalo untuk keperluan cetak, saya lebih tetep pilih untuk mempertahankan atau menyertakan file foto/gambar dgn resolusi tinggi🙂

  3. Memang, Pak Nanto. Kadang guru di sekolah memberi materi pelajaran tidak sesuai kondisi lapangan. Itulah perlunya merangkul praktisi seperti njenengan.

    1. Waalaikumus Salaam Warohmatulloohi Wabarokaatuhu

      Untuk spanduk yang ukuran besar, resolusi yang digunakan cukup 25 atau 35 pixel saja. Pertimbangannya adalah, spanduk atau banner tersebut, untuk dilihat dari jauh. Orang tidak butuh melihat dari dekat. Sehingga, “kasarnya gambar” akibat pencetakan resolusi rendah, akan tidak nampak.
      Keuntungan lain, file yang ditimbulkan, tidak terlalu besar. Mesin pencetak/ digital printing juga tidak “keberatan” melaksanakan tugasnya.
      Semoga membantu

  4. Assalamualaikum, saya mau nanya. saya membuat banner sebesar 2×1 meter. kira kira ukuran dan resolusi (ppi) nya gimana ya? terima kasih

  5. mas mau nanya, misal sy bikin baliho uk 3x5m, sy setting di corel dengan perbandingan 30x50cm itu kira2 dpi supya ngk pecah hasilnx berapa y mas bgs? jg supya mesin cetak tidak berat pas nyetak

    1. Prinsip yang harus dipegang dalam mendesain, adalah ukuran harus 1:1 atau mendekati.
      Dalam kasus baliho atau desain lain yang berukuran besar atau superbesar, menurut pengalaman saya, yang bisa “dimainkan” hanya resolusinya. Bukan ukuran dimensinya. Dengan pertimbangan, agar mesin cetak digital gak sampai “ngoyo” (ngos-ngosan atau keberatan).
      Sementara, mendesain dengan skala, sangat beresiko terhadap hasil akhir. Dengan kata lain, walaupun didesain dengan resolusi sangat tinggi, tapi kalo harus dibesarkan 20 kali lipat, pasti ada efeknya. Dan ini sulit diduga hasil akhirnya. Percayalah.
      Solusinya: bikin ukuran 1:1 tapi resolusinya 35 dpi atau 25 dpi.
      Jadi hilang dong, detailnya?
      Iya kalo itu dilihat dari jarak 25cm. Tapi kalo dilihat dari lebih dari 3 meter, ketidakdetilan itu gak kelihatan.
      Silahkan dicoba. Semoga membantu.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s