PDF Berkekuatan Tinggi

Adobe pdf
Pengembangan file berbasis PDF (Portable Document Files) karya Adobe, seakan telah membahana ke seluruh lini pekerjaan. Bayangkan saja, ketika kita berbicara crossplatform (Mac – windows – Linux – Solaris – dsb), PDF telah menyatukan itu semua. Seakan-akan sudah tidak ada batas lagi, mana Linux, mana Windows dsb.
Belum lagi kalau kita berbicara mengenai program/ software. Maka kita akan terkotak-kotak pada software atau program kegemaran kita. Ada pengguna MS Word versi terakhir (saat ini versi 2007, kalo gak salah), akan kesulitan dibuka oleh versi sebelumnya. Demikian juga kalo sudah berbicara grafis, memberikan preview desain ke customer yang jauh dari jangkauan kita, akan berlipat-lipat tingkat kesulitannya.
Dulu, saat pdf masih belum sepopuler hari ini, konfirmasi desain harus menyertakan print ke client. Sekalipun yang bersangkutan berada nun jauh di seberang sana. Atau kalau pingin lebih ces pleng (konyolnya), desain softcopynya dikirimkan. Kalau sudah demikian, pasti akan sangat runyam. Mungkin desain kita itu akan diberikan ke produsen lain dengan dalih itu desain mereka (kita dibohongi mentah-mentah). Atau bila yang bersangkutan jujur, kesulitan kedua: mereka harus punya program yang memungkinkan file desain itu bisa terbuka sempurna, plus huruf-huruf yang menyertainya.
Mengapa dulu bisa sampai terjadi cerita konyol seperti itu, hingga desain softcopynya ikut dikirimkan? Ini tidak lain karena si Client, punya sangat banyak kemauan. Sementara dipihak kami, mekanisme pembatasan revisi belum terfikirkan. Jadinya ya gitu itu. Akhirnya setelah bertahun-tahun berlalu, PDF telah memberikan jawaban yang sangat mengagumkan. Mengapa? Karena kita tidak pernah lagi dipusingkan masalah:

1. Platform alias Sistem Operasi
Dulu, kami pernah punya pengalaman, saat bekerja dengan menggunakan AdobePageMaker ver. 6.5 Windows. Dan ketika masuk ke wilayah pracetak, masalah terjadi. Perusahaan pembuat film hanya punya komputer Mac. Alhasil, file tersebut dibuka di PageMaker 6.5 ver Mac. Awalnya gak masalah, tapi setelah diteliti lebih jauh, ternyata banyak sekali link dengan nama file yang panjang, dipotong menjadi 8 karakter saja. Sehingga gambar-gambar yang tampil, jadi sangat kacau. Belum lagi beberapa karakter yang “loncat” gara-gara kompatibilitas yang tidak terlalu sempurna antara versi Mac dan Windows.
Cerita ini ternyata sangat banyak yang ngalami di jaman kami dulu (sekitar pertengahan 90an)

2. Program atau Software
Pengalaman ini hampir sama dengan cerita di atas, yaitu saat masuk proses pracetak (film). Saat kami setor file berbentuk AdobePageMaker, beberapa perusahaan langganan kami menolak, hanya karena operator dan programnya tidak ada. Bahkan dengan sedikit aneh, mereka bertanya balik ke kami, “kok gak pakek CorelDraw atau Freehand aja?”
Saya jawab, “Ya Memang bisa sih pakek kedua program itu, tapi kalau buku saya terdiri dari 300 halaman dengan sangat banyak gambar, apa ya tahan? (Waktu itu spek komputer yang tertinggi masih Pentium III).

3. Pusing masalah Huruf
Pernah suatu ketika, semua kerjaan telah dikirim. Beberapa saat kemudian, kami ditelp oleh perusahaan pracetak, “Mas, ada missing fontnya. Tadi lupa gak convert ya?”
Waduh, pekerjaan “kesusu” gini, masih missing font lagi… Terpaksa balik lagi ke kantor. Dari pengalaman ini, saya akhirnya wanti-wanti ke semua, jangan lupa font.
Hingga hari ini, saya masih belum menemukan mekanisme tercepat, menemukan font apa saja yang digunakan untuk program Adobe PageMaker. Tapi kebimbangan saya ini akhirnya terjawab, dengan munculnya versi penerus PageMaker yaitu Adobe InDesign, yang menyertakan semua font yang digunakan.

4. Program non Grafispun Jadi
Saat mendapat pekerjaan membuat buku (lagi), masalah muncul. Akankah file yang disetor client yang dalam bentuk MSWord, sudah dalam keadaan sangat sempurna (tinggal mendandani sedikit), saya pindahkan ke Adobe PageMaker atau Adobe InDesign? Kalau pilihan kedua yang saya jalani, pasti saya akan bekerja sangat keras, mulai membuat layout, membuat “index”, catatan kaki, daftar isi, dsb. Walaupun itu semua bisa dijalankan secara otomatis, tapi kan harus “metani” (mencari-cari: njlimet) dulu. Yang pusing kan mencari semua kata atau kalimat yang mesti dimasukkan ke halaman index. Akhirnya terfikir, bagaimana kalau menggunakan program ini saja tapi di-PDF-kan. Bukankah sekarang PDF itu sakti Mondroguno? Sudah sangat support untuk keperluan percetakan. Akhirnya dengan mensetting PDF ke “Prepress”, semua bentuk kesulitan itu terjawab sudah. Pihak perusahaan film ok, ketika dicetak dan hasilnya juga OK. Buku yang saya maksud ini tidak lain adalah: “GURU GOBLOK KETEMU MURID GOBLOK” karya best seller dari Cak Iman Supriyono, yang saat ini sudah memasuki cetakan ke-4 (kurang lebih sudah 16.000-an eksemplar).

Dari segelintir pengalaman ini, rasanya cukup sudah bagi saya untuk mengakui, bahwa PDF itu sudah bisa mempengaruhi semua lini pekerjaan. Bagaimana dengan sampeyan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s