Desain untuk Percetakan

Banyak orang bisa mendesain, mulai dengan Program berbasis Windows, Mac, Linux, maupun yang lainnya. Cuman, dari sekian banyak orang itu, sebagian diantaranya yang kurang memahami logika pracetak atau bahkan mesin cetak. Mereka mendesain hanya berdasarkan suka dan tidak suka. Bisa dan tidak bisa. Cuman kalau ini dituruti, saya yakin pihak pracetak akan pusing tujuh keliling “merasakan” kemauan yang “jauh” dari efek produksi ini.
Dalam hal ini, saya pernah punya pengalaman, dimana anak buah saya (desainer) kebetulan mantan pegawai percetakan besar. Dia bercerita kalau di tempatnya bekerja dulu, hasil output yang seperti itu (dalam bahasa saya masih mentah) sudah cukup untuk diberikan ke bagian produksi. Waktu itu saya katakan, bahwa perusahaan saya ini beda sekali dengan perusahaan dia dulu. Kalau di perusahaan itu,  sudah punya mesin film (mesin pembuat film), disamping itu ada bagian khusus yang akan menangani masalah pracetak  ini, demikian seterusnya. Tapi disini? Tidak ada mesin yang dia maksud. Alhasil, untuk keperluan tersebut (pem-film-an, yaitu membuat film cetak untuk kemudian ditransfer ke plat cetak), pihak saya harus bekerja keras  menyiapkan sendiri tugas-tugas pracetak tersebut, hingga betul-betul matang dan siap film.
Mengapa ini saya lakukan? Sebab pihak perusahaan pemfilman tidak mau mengganti, merubah, melayout, apapun atas desain yang telah saya setorkan. Jadi, apa yang masuk ke tempat mereka, harus betul-betul beres 100%. Bahkan, untuk merubah mode warna saja, mereka kadangkala tidak mau (biasanya konfirmasi ke saya). Kalau saja pekerjaan ini adalah pekerjaan pembuatan brosur, mungkin tidak masalah. Karena halamannya sangat sendikit. Tapi kalau buku? Alamaak…
Apalagi kalau sudah melibatkan buku yang halamannya diatas 100 halaman. Maka penanganannya jadi jauh lebih pusing.
Untuk kasus buku, untung saja di Surabaya ada perusahaan pemfilman yang bersedia melayoutkan (otomatis), walaupun kita menyerahkan desain kita ke sana dalam bentuk Adobe PageMaker atau CorelDRAW! sekalipun. Jadi untuk buku, tidak masalah. Tinggal berani bayar agak mahal (untuk biaya film) atau tidak, itu saja.

Kembali ke masalah desain, berikut ada beberapa pengalaman yang sering “ditinggal” oleh desainer, terutama desainer pemula.

1. Lebihan (kalo gak salah dalam bahasa grafika adalah sisiran).
Desainer pemula, sering sekali membuat desain “pres gambar”. Artinya untuk pesanan media dengan ukuran 20×30 cm, mereka mendesain dengan ukuran yang sama. Akibatnya setelah dicetak kemudian dipotong, ukuran medianya jadi tinggal 19,6 x 29,6 cm.
Bagaimana seharusnya? Buatlah gambar atau desain dengan diberi kelebihan ukuran 2 mm keliling. Artinya sisi kiri dilebihi 2 mm, kanan 2 mm, atas 2 mm, dan bawah 2 mm. Contoh: Bila kita membuat brosur butuh ukuran jadi A3 atau 29,7 x 42 cm, maka ukuran desain paling tidak 30,1 x 42,4 cm. Begitu seterusnya.

2. Mode Gambar/ warna
Dari beberapa pengalaman saya, mode gambar yang paling aman digunakan dalam Program apapun adalah CMYK. Mengapa saya katakan mode paling aman? Sebab Program-Program grafis tertentu bisa memecah (separasi) warna secara otomatis.
Contohnya adalah CorelDRAW!. Program ini walaupun “dimasuki” foto berformat RGB pun secara otomatis bisa langsung diseparasi. Sementara Program yang lainnya seperti Adobe Illustrator, Pagemaker, Quark Express, Macromedia Freehand, InkScape-pun belum bisa melakukan hal yang sama. Tidak tahu lagi kalau yang versi terbaru ini. Khusus untuk CorelDraw, pun walau bisa melakukan separasi secara otomatis, tetap sangat disarankan warna maupun foto yang dimasukkan dalam format CMYK. Paling tidak, pengkonversian mode dilakukan di dalam Program ini melalui perintah “Bitmap” – “Convert to Bitmap”.
Foto yang dibiarkan berbasis RGB hingga proses film, biasanya menghasilkan warna yang sedikit beda dari yang dalam format CMYK, setelah dicetak.

3. Tanda Kres Potong maupun tekuk.
Tanda ini diperlukan, biasanya untuk memberi kode pada tukang potong, bahwa di sisi inilah pemotongan harus dilakukan. Demikian juga dengan kres tekuk, juga sama. Yaitu memberikan kode pada “tukang pisau” agar mengeset posisi pisau tumpul (rit) tepat pada tempatnya.

4. Resolusi Gambar
Resolusi yang disarankan adalah minimal 300 dpi. Sedangkan dibawah resolusi itu, biasanya gambar/ foto tersebut kelihatan agak kabur alias tidak tajam. Ada pengalaman yang cukup pahit. Pelanggan saya memberikan gambar dalam resolusi 72 dpi. Sepertinya dia dapat gambar tersebut dari internet. Waktu itu saya sebenarnya sudah tahu, tapi tidak mengkonfirmasi balik. Hanya saya perbaiki sendiri di Photoshop. Ditajamkan (sharpen) dan dinaikkan resolusinya. Alhasil, begitu selesai dicetak, hasilnya kabur. Dan saya dikomplain dengan sukses. 😦

5. Jarak antara Huruf dengan tepi
Maksudnya adalah posisi huruf-huruf dalam paragraf dengan tepian media jangan terlalu dekat. Disini saya sangat sering menemuinya, terutama pada rekan-rekan yang lagi PKL atau PSG. Biasanya mereka baru menyesal, setelah dicetak. Mengapa harus demikian? Apakah ada pakemnya? Untuk pakem, terus terang saya tidak tahu, karena background pendidikan saya adalah Teknik Kelautan ITS Surabaya.
Cuman disini saya hanya mengandalkan pengalaman dan pendapat beberapa rekan. Yang setelah diintisarikan, jadinya ya seperti ini. Tulisan atau paragraf jangan terlalu mepet dengan tepian media. Itu saja. Kecuali dari sejak awal, diniati desain kontemporer, yang betul-betul “nabrak” apapun.

6. Konversi Huruf
“Convert to Curve”. Perintah dalam program CorelDraw inilah yang sering saya gunakan dalam mendesain sesi-sesi akhir, sebelum difilmkan. Keberadaan huruf di tempat pemfilman, tidak selamanya sama dengan di tempat kita. Ketika “font not found”, biasanya yang terjadi huruf akan diganti sekenanya, sesuai dengan settingan di program grafis tersebut. Hasilnya, desain kita jadi hancur terutama pada bagian tata letak tulisannya. Dalam bahasa Jawa disebut: Ting Pecothot. Untuk mencegah terjadinya masalah ini, sangat disarankan untuk melakukan konversi huruf atau font.

7. Warna Hasil tidak selamanya sama dengan Monitor.
Saat bekerja dengan program seperti Freehand, Illustrator, PageMaker, InDesign, warna gambar yang berbasis CMYK selalu tampak “ngejreng” alias norak. Warna-warna jadi tajam. Kalau ini yang terjadi, tidak usah khawatir. Sebab program-program tadi memang membaca mode warna CMYKnya seperti itu. Untuk mengecek atau memastikan warna aslinya,  silahkan buka program barbasis bitmap seperti Adobe Photoshop, CorelPhotopaint, Macromedia Fireworks, Gimp, atau yang lainnya. Sedangkan untuk warna-warna lain, terpaksa harus dicocokkan dengan tabel warna.
Yang perlu diingat, warna monitor tidak selalu sama dengan warna hasil cetak, karena pancaran cahaya monitor sangat dipengaruhi oleh setting cahaya dan komponen yang ada didalamnya. Contoh: Monitor Samsung 17″ warnanya lebih lembut dibandingkan dengan Monitor merk Treq 17″. Nanti kalau dibuka di Komputer Macintosh atau Linux akan lebih beda lagi. Begitu seterusnya.

8. Print ukuran 1:1
Desain apapun, sangat disarankan walaupun sekali, ngeprint ukuran yang sebenarnya. Tidak peduli itu pekerjaan brosur, poster, buku, ataupun yang lainnya. Tidak harus semua, tapi cukup ngeprint secara acak bagian tertentu saja. Terutama bagian-bagian yang mengandung komponen yang berukuran paling kecil dan paling besar.
Paling kecil, maksudnya apakah huruf atau gambar itu masih bisa dibaca atau dilihat dalam jarak pandang normal atau tidak. Sedangkan paling besar, maksudnya adalah apakah perbandingan gambar atau huruf tersebut masih masuk akal dengan sekitarnya atau tidak. Masih layak tampil dengan ukuran tersebut atau tidak. Kalau tidak, segera ubah.

9. Cek n Ricek.
Kesalahan yang paling sering terjadi adalah kesalahan penulisan. Entah huruf yang loncat, atau salah ketik. Kalau ini yang terjadi, tinggal terserah pelanggannya. Mau terima atau tidak. Kalau tidak terima, ya terpaksa ngganti. Sangat disarankan, pengecekan tidak dilakukan oleh 1 orang saja. Makin banyak orang makin bagus.

Mudah-mudahan bermanfaat.

2 thoughts on “Desain untuk Percetakan”

  1. Assalamu’alaikum, pak guru.
    Saya yang tadi ketemu di p3e dan ngobrol banyak masalah kamera digital dan masalah pekerjaan kita berdua. Posting ini baik sekali terutama bagi yang pemula dibidang percetakan. Alhamdulillah semua itu sudah sering saya lakukan dan Alhamdulillah hasilnya cukup bagus yang semua itu tergantung juga dengan mesin cetaknya dan tukang yang mengerjakan cetakan itu (tukang cetak). Terima kasih ilmunya ya maas nanti kapan kapan saya akan berkunjung ke padepokan kamu untuk berguru lagi.
    Terima kasih
    Wassalamu’alaikum.

  2. Waalaikumus Salaam Warohmatulloohi Wabarokaatuhu

    Iya Mas, ingat kok.
    Betul. Salah satu faktor penentu bagian akhir yaitu operator mesin cetak. Dari pengalaman saya, ternyata keberadaan mesin cetak itu menentukan 30% hasil akhir cetakan. Sedangkan operator sekitar 60%. Sisanya lain-lain.
    Mengenai dolan ke tempat saya, monggo saya tunggu. Kalo bisa kontak dulu ya mas, sebelum ke sana. Suwun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s